Sabtu, 14 November 2015
Seorang pemuda melamar lowongan posisi manajer
di sebuah perusahaan besar.
Dia lulus wawancara awal.
Sekarang akan bertemu dengan seorang direktur untuk wawancara akhir.
Dari CV-nya sang direktur mengetahui bahwa prestasi
akademis pemuda itu sangat baik.
Dia bertanya, "Apakah Anda mendapat beasiswa di
sekolah ...?"
Pemuda itu menjawab, "NO". "Siapa yang membayar biaya sekolah ...?"
"Orangtua," jawabnya.
"Di mana mereka bekerja ......?"
"Mereka bekerja sebagai tukang cuci pakaian."
Direktur meminta pemuda itu untuk menunjukkan
tangannya. Pemuda itu menunjukkan kedua tangannya yang
halus dan sempurna.
"Pernahkah Anda membantu orangtua Anda mencuci
pakaian?"
"Tidak pernah.
Orangtua saya selalu ingin saya belajar dan membaca buku lebih banyak.
Selain itu, orangtua saya bisa mencuci pakaian lebih
cepat dari saya."
Direktur mengatakan,
"Saya punya permintaan.
Ketika Anda pulang hari ini, pergi dan bersihkan tangan orangtua Anda.
Temui saya besok pagi."
Pemuda itu merasa sedih.
Ketika ia kembali ke rumah,
ia meminta orangtuanya membiarkan dia
membersihkan tangan mereka. Orangtuanya merasa aneh.
Senang..., terharu... tapi dengan perasaan campur
aduk,
Mereka menunjukkan tangan mereka kepada sang
anak.
Pemuda itu membersihkan tangan mereka perlahan- lahan.
Airmatanya meleleh perlahan saat ia melakukan itu.
Ini adalah pertama kalinya ia melihat ......
Tangan orangtuanya begitu kusut, dan....
begitu banyak lecet di tangan mereka.
Beberapa luka lecet itu membuat mereka mengeluh sakit saat ia menyentuhnya,
Ini adalah pertama kalinya pemuda itu menyadari
bahwa sepasang tangan yang mencuci pakaian setiap
hari inilah
yang memungkinkan dia untuk membayar biaya
sekolah. Lecet2 di tangan adalah harga yang harus dibayar
orang tuanya
untuk pendidikan, kegiatan sekolah dan masa
depannya.
Setelah membersihkan tangan orangtuanya,
pemuda ìtu diam-diam mencuci semua pakaian yang masih tersisa.
Malam itu, orangtua dan anak berbincang untuk
waktu yang sangat lama.
Keesokan paginya, pemuda itu pergi ke kantor
direktur.
Direktur melihat airmata di mata pemuda itu, ketika ia bertanya:
" Apa yang telah Anda lakukan di rumah Anda
kemarin ....?"
Pemuda itu menjawab,
"Saya membersihkan tangan orangtua saya,
juga mencuci semua pakaian yang tersisa sampai selesai."
" Pelajaran apa yg Anda peroleh..? "
"Saya sekarang tahu apa artinya cinta dan
pengorbanan orang tua saya.
Tanpa orangtua saya, saya tidak akan menjadi diri
saya hari ini "... Dengan membantu orangtua saya,
saya baru menyadari betapa sulit mencapai tujuan
kalau dilakukan sendiri.
Saya menghargai pentingnya saling membantu dalam
keluarga."
Direktur mengatakan, "Inilah yang saya cari pada diri seorang manajer.
Saya ingin merekrut orang yang dapat menghargai
bantuan orang lain.
Orang yang tahu penderitaan orang lain untuk
menyelesaikan sesuatu,
Orang yang tidak menempatkan uang sebagai satu- satunya tujuan hidup."
"Anda diterima kerja."
Wahai para orang tua.....
Seorang anak, yang terlalu dilindungi, dimanjakan apa
pun yang ia mau,
akan mengembangkan "mentalitas hak" dan akan selalu mengutamakan dirinya sendiri.
Dia akan mengabaikan upaya orangtuanya.
Jika kita menjadi orangtua yang terlalu melindungi,
bukan berati mencintai anak-anak dengan cara yg
benar.
Bukankah malah menghancurkan mereka...? Boleh membiarkan anak tinggal di sebuah rumah
besar,
makan makanan yang baik, belajar piano, menonton
TV layar lebar.
Tapi ketika Anda membersihkan rumah, ajak mereka
juga melakukannya. Setelah makan, biarkan anak2 mencuci piring dan
mangkuk sendiri.
Bukan karena tidak punya uang untuk menyewa
pembantu,
tetapi karena ingin mencintai anak2 dengan cara
yang benar. Agar mereka mengerti, kendati orangtua mampu.
Suatu hari kita akan menjadi tua dan tak berdaya.
Betapa bahagia mempunyai anak yang mengerti.
Didik dan bimbinglah anak Anda agar belajar
bagaimana menghargai jerih payah orang tua, juga
orang orang lain dalam mencapai tujuan. Semoga bermanfaat!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar